Kembangkan Kampung Ikan di Boyolali, KKP Gelar Pelatihan Pakan Mandiri dan Olahan Ikan

Jakarta, Gempita.co – Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BP3) Tegal mengadakan ‘Pelatihan Teknis Kelautan dan Perikanan Bidang Pembuatan Pakan Ikan dan Pengolahan Hasil Perikanan’ bagi masyarakat di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada 9-10 Maret 2021.

Pelatihan diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari 70 orang pembudidaya perikanan dan 30 orang pengolah perikanan dengan menggunakan metode blended learning. Melalui metode ini, para instruktur dari BP3 Tegal memberikan demonstrasi secara online dari kedudukannya. Sementara itu, para peserta mengikuti pelatihan dari 3 lokasi berbeda yaitu Balai Desa Kacangan Kec. Andong, Balai Desa Bandung Kec. Wonosegoro, dan Aula Dinas Peternakan dan Perikanan guna tetap menjaga protokol kesehatan.

Bacaan Lainnya
Gempita Bali Transport

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja menyebut, pelatihan ini ditujukan untuk menumbuhkan sentra kelautan dan perikanan yang terintegrasi di Kabupaten Boyolali. Hal ini sejalan dengan salah satu program prioritas Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, untuk mengembangkan kampung-kampung budidaya air tawar, payau, dan laut di berbagai wilayah Indonesia.

“Kami berharap ke depannya ada sebuah desa atau kampung di Boyolali ini yang menjadi sentra atau kawasan yang terintegrasi. Mulai dari adanya rumah tangga yang berperan sebagai pembuat pakan ikan sampai dengan adanya rumah tangga yang memasarkan produk-produk olahan ikan, baik di dalam maupun di luar Boyolali. Dengan begitu, roda perekonomian terus berputar di daerah ini,” tuturnya.

Pelatihan pembuatan pakan ikan mandiri dan pengolahan hasil perikanan kali ini pun menjadi salah satu langkah KKP untuk mewujudkannya. Melalui pelatihan ini, Sjarief berharap agar tingginya biaya pakan ikan yang menjadi kendala dalam usaha budidaya dapat diatasi.

“Harga pakan ikan yang tinggi selalu mendominasi biaya produksi kegiatan budidaya bagi pembudidaya ikan. Dengan membuat pakan ikan mandiri, pembudidaya dapat menghemat sampai dengan 20% dari biaya produksinya,” ucapnya.

Adapun pelatihan pengolahan hasil perikanan yang dilakukan secara bersamaan diharapkan dapat turut meningkatkan angka konsumsi ikan, melesatkan tingkat gizi dan kesehatan masyarakat, serta membangkitkan sektor perikanan nasional.

“Inovasi olahan ikan juga sangat penting dalam peningkatan angka konsumsi ikan nasional. KKP menargetkan tingkat konsumsi ikan sebesar 62,50 kg/kapita/tahun di tahun 2024 yang sebelumnya 56,39 kg/kapita/tahun di tahun 2020. Pelatihan ini menjadi salah satu strategi kami untuk mencapai target tersebut,” jelasnya.

Guna mewujudkan kawasan perikanan terintegrasi di Boyolali, ia pun mendorong sinergi yang baik dari pemerintah daerah, penyuluh, maupun masyarakat. Dengan begitu, diharapkan agar ikan lele dan nila yang menjadi produk unggulan Boyolali dapat tumbuh optimal untuk meningkatkan usaha masyarakat.

Menyambut baik kegiatan ini, Sekretaris Daerah Kab. Boyolali, Masruri menyebut bahwa konsumsi ikan di daerahnya masih cukup rendah dibandingkan daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya minat masyarakat pegunungan dalam mengonsumsi ikan.

“Masyarakat Boyolali tinggal di daerah pegunungan sehingga memang tidak gemar makan ikan,” ujarnya.

Selain itu, biaya pakan tinggi juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan budidaya ikan setempat. Untuk itu, ia sangat mendukung terselenggaranya pelatihan ini. Ia berharap agar tumbuh kelompok-kelompok usaha pakan mandiri baru di Boyolali untuk mendukung kegiatan budidaya.

“Memang di daerah ini perlu ada kelompok yang bisa membuat pakan sendiri menggunakan bahan-bahan lokal sehingga pembudidaya ikan tidak kesulitan untuk meningkatkan produksi ikan, yang bermanfaat untuk pangan masyarakat juga,” ucapnya.

Masruri pun berharap agar rangkaian pelatihan ini akan diteruskan dengan materi pemasaran secara online yang dinilai lebih menguntungkan dan mudah.

“Saya pengalaman membantu seorang pengemas produk perikanan untuk membuka usaha. Hanya 1 tahun (ia) berhenti karena tidak kuat (red: terlalu banyak yang harus dikelola) dan beralih ke pemasaran online. Ada baiknya masyarakat Boyolali juga ikut belajar pemasaran secara online sehingga semakin banyak lagi daerah yang bisa menjangkau produk perikanan dari Kabupaten Boyolali ini,” tuturnya.

Sebagai informasi, pelatihan ini diinisasi oleh Ketua DPR RI Puan Maharani sebagai tindak lanjut proposal kerja sama antara Pemda Boyolali dan KKP pada September 2020. Rangkaian pelatihan yang akan terus dijalankan ke depannya ini diharapkan dapat mewujudkan pembangunan sektor perikanan, yang merupakan sektor unggulan Boyolali, di tengah kondisi pandemi Covid-19.

Turut hadir dalam kesempatan ini Kepala Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali Bambang Purwadi, Kepala BP3 Tegal Moch. Muchlisin, serta jajaran instruktur, widyaiswara, dan penyuluh perikanan BP3 Tegal.

Latih Nelayan Sulsel Tingkatkan Nilai Jual Ikan

Selain melatih para pembudidaya dan pengolah ikan, tak ketinggalan KKP juga memberikan peningkatan kompetensi bagi nelayan melalui ‘Pelatihan Operator Mesin Pendingin Perikanan’ di Kabupaten Wajo dan Kota Palopo, Sulawesi Selatan, pada 8-9 Maret 2021. Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas hasil tangkapan nelayan yang akan turut berdampak pada harga jual ikannya.

Difasilitasi oleh pelatih dari BP3 Bitung, pelatihan dihadiri oleh 60 nelayan yang merupakan warga Kabupaten Wajo dan Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan. Peserta mengikuti kegiatan dengan metode blended learning melalui sambungan Zoom guna tetap menerapkan protokol kesehatan.

Para peserta dibekali materi mengenai cara mengoperasikan mesin pendingin, perawatan mesin pendingin, dan teknik memperbaiki kerusakan pada mesin pendingin perikanan.

Kepala Puslatluh KP Lilly Aprilya Pregiwati menyampaikan bahwa penggunaan mesin pendingin lebih efisien dibandingkan palka es dalam menjaga mutu ikan di atas kapal. Untuk itu, ia mendorong agar nelayan mulai beralih memanfaatkan mesin pendingin yang diminiliknya untuk meningkatkan nilai jual ikan hasil tangkapannya.

“Biasanya nelayan tradisional menggunakan palka-palka yang dikasih es untuk menjaga kesegaran dari ikan yang ditangkap. Tapi, mesin pendingin bisa menjaga kesegaran dan kualitas ikan dengan lebih lama dan lebih baik lagi. Hal ini akan berpengaruh ke nilai jual ikan,” ucapnya.

“Pada suhu kamar, ikan cepat menjadi busuk karena bakteri berkembang cepat. Hal inilah yang mendorong usaha refrigerasi untuk memperpanjang daya awet ikan. Kualitas dan kesegaran ikan akan tetap terjaga dengan cara didinginkan,” tambahnya.

Lilly menyebut, proses pendinginan memiliki peran khusus dalam mata rantai produksi dan distribusi pangan. Oleh karena itu, teknologi ini tak hanya diterapkan dalam pemanfaatan pasca-panen, namun juga produksi pra-panen.

“Refrigerasi terus diterapkan dalam seluruh mata rantai mulai dari produksi sampai pada penanganan, pengolahan, dan distribusi serta konsumsi pangan. Untuk itu, pengoperasian, perawatan dan perbaikannya perlu menjadi perhatian nelayan,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Lilly mengarahkan para pelatih untuk mengajarkan peserta agar dapat menghitung efisiensi penggunaan mesin pendingin dalam menjaga mutu hasil tangkapan ikan. Di samping itu, ia juga juga mengerahkan para penyuluh untuk terus mendampingi para peserta dalam mempraktikkan keterampilan yang didapatkan pasca pelatihan.

Kepala Dinas Perikanan Kota Palopo, Nurlaeli, berharap pelatihan ini dapat memecahkan permasalahan di daerahnya saat ini. Ia menyatakan bahwa distribusi hasil tangkapan ikan di daerahnya terus menurun akibat pandemi Covid-19. Hal ini berdampak bagi nelayan dalam menjual hasil tangkapannya.

“Pada kondisi pandemi, produksi perikanan tangkap kami tidak berkurang dan malah terus meningkat. Cuma kendalanya ada di distribusinya. Kota Palopo sebagai salah satu penyuplai ikan di daerah Toraja jadi macet karena akses distribusinya tertahan lockdown,” ungkapnya.

“Saya harap dengan adanya pelatihan pengoperasian mesin pendingin ini, nelayan kami dapat memanfaatkan mesin pendinginnya masing-masing dalam menjaga kualitas ikannya,” tambah Nurlaeli.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Wajo, Nasfari, berharap agar pelatihan ini dapat diteruskan dengan pelatihan lanjutan tentang metode penyimpanan dan labelisasi produk perikanan. Di samping itu, ia berharap agar KKP dapat memberikan bantuan sarana prasarana pengolahan ikan untuk mendukung masyarakat setempat dalam mengolah ikan hasil tangkapannya ke depan.

Sebagai Informasi, turut hadir dalam kesempatan ini Kepala BP3 Bitung Ahmad Ridloudin, serta jajaran instruktur, widyaiswara, dan penyuluh perikanan BP3 Bitung.

Sumber: HUMAS BRSDM

Kemenkumham Bali

Pos terkait

Iklan Layanan Masyarakat Kemenkumham Bali