Simak! Bos TikTok Selama 5 Jam Dicecar Pertayaan Anggota DPR AS

Gempita.co – Shou Zi Chew CEO TikTok selama lima jam dicecar pertanyaan oleh Kongres Amerika Serikat terkait kekhawatiran data pengguna dibagikan ke pemerintah China.

Salah satunya dilontarkan Anggota DPR Perwakilan Republik Carolina Utara Richard Hudson. Dia menanyakan bagaimana cara kerja WiFi.

Bacaan Lainnya
Gempita Bali Transport

“Tuan Chew, apakah TikTok mengakses jaringan wifi rumah?” tanya Hudson.

“Hanya jika pengguna menyalakan wifi,” kata Chew. “Maaf, saya mungkin tidak mengerti pertanyaannya.”

“Jadi, jika saya memiliki aplikasi TikTok di ponsel saya dan ponsel saya ada di jaringan wifi rumah saya, apakah TikTok mengakses jaringan itu?” kata Hudson.

“Itu harus – mengakses jaringan untuk mendapatkan koneksi ke internet, jika itu pertanyaannya,” kata Chew, tampak agak bingung karena pertanyaan Hudson pada dasarnya membingungkan.

“Kalau begitu, mungkinkah ia dapat mengakses perangkat lain di jaringan WiFi rumah itu?” tanya Hudson.

“Anggota Kongres, kami tidak melakukan apa pun yang berada di luar norma industri. Saya percaya jawaban atas pertanyaan Anda adalah tidak. Ini bisa bersifat teknis. Izinkan saya menghubungi Anda kembali,” kata Chew.

Momen tersebut kemudian dibuat video reaksi oleh banyak pengguna TikTok di AS. “Ini sangat memalukan,” kata akun @hoolie_r dalam videonya. “Saya bersumpah demi Tuhan kita perlu mendapatkan orang-orang yang kompeten dan lebih muda di kantor.” Semua komentar di video tersebut memiliki nada yang sama.

@gbp97 I get second hand embarrasment watching these corpses try to make points 🤦🏼‍♂️ #tiktokhearing#tiktokban#fyp#ustiktokban♬ original sound – Gbp97

Ada pula pernyataan mengejutkan oleh Anggota DPR Perwakilan Republik Georgia dari Partai Republik, Buddy Carter. Dia menjadi yakin bahwa TikTok sedang mengumpulkan data biometrik pengguna – khususnya, bagaimana mata pengguna melebar saat menonton video.

“Dapatkah Anda memberi tahu saya sekarang, dapatkah Anda mengatakan dengan kepastian 100%, bahwa TikTok tidak menggunakan kamera ponsel untuk menentukan apakah konten yang menimbulkan pelebaran pupil harus diperkuat oleh algoritme? Bisakah Anda memberi tahu saya itu?” tanya Carter.

“Kami tidak mengumpulkan data tubuh, wajah, atau suara untuk mengidentifikasi pengguna kami.” jawab Chew.

“Kamu tidak?” ujar Carter menimpali.

“Tidak. Satu-satunya data wajah yang kami kumpulkan adalah saat Anda menggunakan filter yang ada, katakanlah kacamata hitam, di wajah Anda, kami perlu tahu di mana mata Anda berada” papar Chew.

“Mengapa kamu perlu tahu di mana letak mata jika kamu tidak melihat jika matanya melebar?” tanya Carter kembali.

“Dan data disimpan di perangkat lokal Anda dan dihapus setelah digunakan jika Anda menggunakannya untuk wajah. Sekali lagi, kami tidak mengumpulkan data tubuh, wajah, atau suara untuk mengidentifikasi pengguna kami.” tegas Chew.

“Saya merasa itu sulit dipercaya. Menurut pemahaman kami, mereka melihat ke mata,” timpal Carter.

Para pengguna TikTok memberikan olok-olok pada sesi ini. “Saya merasa malu [sic] menonton mayat-mayat ini mencoba membuat poin.” ujar salah satu komentar.

Sumber: detikcom

Kemenkumham Bali

Pos terkait

Iklan Layanan Masyarakat Kemenkumham Bali