Opini

Apakah Cahaya Dunia Pendidikan Sudah Mati?

Oleh: Philip Fam

Di bangku sekolah dan kuliah orang diajarkan berpikir logis. Tujuannya agar setelah menamatkan studinya, seseorang bisa berpikir logis sehingga setiap tindakan yang dilakukan selalu didasarkan pada pertimbangan akal sehat (common sense). Mereka dididik oleh guru sekolah melalui berbagai mata pelajaran selama bertahun-tahun di sekolah dan di bangku kuliah untuk selalu bisa memecahkan persoalan secara logis. Jika terjadi sesuatu, misalnya banyak orang menuduh Wuhan sebagai sumber tempat Covid-19 berasal, mereka tidak langsung mempercayai.

Ciri Kaum Terpelajar

Sikap kritis merupakan salah satu ciri kaum terpelajar. Jika seorang profesor, tokoh masyarakat atau banyak orang bilang Covid-19 berasal dari Wuhan, Zhongguo, kaum terpelajar tidak melihat siapa atau berapa banyak orang yang mengatakannya. Yang dilihat adalah kebenaran dari apa yang disampaikan dan ada barometer yang dapat dipakai untuk mengukur sejauh mana pendapat itu benar, valid, dan sudah boleh dipercaya.

Suasana Dunia Pendidikan

Amerika adalah salah satu negara yang sangat maju di bidang menghasilkan kaum intelektual hingga banyak orang di berbagai belahan dunia termasuk dari Tiongkok dikirim ke sana untuk menekuni ilmu sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Suasana dunia pendidikan adalah suasana ilmiah dan ini berarti setiap lulusannya diharapkan bisa berpikir dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah-kaidah logika.

Kesesatan Berpikir

Orang menganggap sesuatu yang benar karena orang yang mengucapkannya seorang tokoh masyarakat, dikatakan orang itu tersesat dalam berpikir ilmiah. Sesat pikir ini dalam logika disebut argumentum ad auctoritatis.

Sedangkan orang yang memandang sesuatu itu benar karena banyak orang yang mengatakan demikian termasuk orang yang tersesat dalam berpikir yang di dalam logika disebut sesat pikir dalam pola argumentum ad populum.

Saya kira serangan-serangan rasial yang marak terjadi akhir-akhir ini di beberapa negara seperti di Amerika pada umumnya menunjukkan pelakunya sama sekali sudah tidak lagi berpikir logis sesuai dengan cara berpikir yang mereka pelajari di sekolah.

Kesalahan Dunia Pendidikan

Menurut pendapat saya hal ini disebabkan kesalahan dunia pendidikan atau kurikulum sekolah yang terlalu menitikberatkan materi pelajaran yang hanya menambah kepintaran dalam berpikir, namun minim pelajaran yang menumbuhkan aspek-aspek lainnya seperti aspek etis, moral, emosional, sosial, dan spritual.

Dunia pendidikan melihat manusia seolah-olah hanya sebagai makhluk yang berpikir (homo sapiens). Padahal pikiran manusia sedikit banyak juga dikendalikan atau dipengaruhi oleh hati, perasaan, keinginan, cita-cita, harapan dan lain-lain. Hal-hal yang disebutkan terakhir ini sangat sedikit atau hampir tidak pernah dijamah oleh dunia pendidikan.

Dunia pendidikan terlalu berorientasi pada kebutuhan atau permintaan pasar, yaitu menyediakan sumber daya manusia yang siap dipakai untuk menunjang pembangunan sarana dan prasarana dan semuanya yang serba fisik material yang kasat mata. Dunia pendidikan tidak merasa bertanggung jawab atas pertumbuhan psikis, emosi, sosial, spritual dan lain-lain seperti disebutkan di atas.

Padahal, dunia pendidikan mengambil waktu yang cukup banyak dari anak didik dengan tujan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat di dunia nyata. Sedangkan sebagian orang tua yang bekerja praktis sulit dapat kita harapkan peran sertanya untuk memberikan bekal yang cukup buat anak-anak mereka untuk bertumbuh baik dari sisi psikis, sosial, maupum spritual dan lain-lain.

Keruntuhan Hasil Pembangunan

Pembangunan fisik seperti gedung-gedung pencakar langit, jembatan yang melintasi pegunungan dan lautan yang sangat luas, kemajuan teknologi tercanggih, mungkin suatu masa bisa saja menemukan keruntuhannya justru oleh hasil pembangunan fisik yang begitu gilang gemilang itu.

Dibarengi Pembangunan Nonfisik

Tidak salah kiranya ketika Albert Einstein mengatakan, “ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”.

Einstein mungkin ingin mengatakan bahwa peradaban manusia jangan hanya dibangun oleh pembangunan yang tampak secara fisik, tapi juga seharusnya dibarengi oleh pembangunan psikis, emosi, sosial, spritual dan lain-lain, sehingga hasil pembangunan itu bisa dinikmati keindahan dan kecanggihannya oleh penghuni planet bumi ini dalam suasana damai sejahtera dan tenteram sesuai dengan hakikat dan tujuan pembangunan itu sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top