Sekilas Info

Donald Trump : China Menguasai AS, Jika…

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Washington, Gempita.co - Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus menyerang Joe Biden jelang Pemilu AS yang akan digelar 3 November mendatang. Trump merupakan calon petahana dari Partai Republik sementara Biden merupakan calon dari Partai Demokrat.

Dikutip dari Reuters, Selasa (8/9), Trump mengatakan jika Joe Biden menang dalam Pemilu nanti, maka China akan menguasai Amerika Serikat.

"Jika Biden menang, China menang, karena China akan menguasai negara ini," kata Trump dalam konferensi pers hari buruh di Gedung Putih.

Maka dari itu, Trump berjanji jika dirinya kembali terpilih menjadi Presiden, dia akan memisahkan ekonomi AS dari China atau dikenal dengan istilah decoupling.

"Jadi ketika Anda menyebut kata decouple, itu adalah kata yang menarik,” ucap Trump.

“Kami kehilangan miliaran dolar dan jika kami tidak berbisnis dengan mereka. (Tapi) kami tidak akan kehilangan miliaran dolar. Ini disebut decoupling, jadi Anda akan mulai memikirkannya," tambahnya.

Selain itu Trump berjanji bahwa di periode keduanya akan melarang kontrak federal dengan perusahaan yang melakukan outsourcing ke China.

Trump juga akan meminta pertanggungjawaban China karena telah menyebarkan virus corona.

"Kami akan membuat Amerika menjadi negara adidaya manufaktur dunia dan akan mengakhiri ketergantungan kami pada China untuk selamanya. Apakah itu memisahkan atau mengenakan tarif besar-besaran seperti yang sudah saya lakukan kami akan mengakhiri ketergantungan kami di China, karena kami tidak bisa mengandalkan China," jelas Trump.

"Kami akan mengembalikan pekerjaan dari China ke Amerika Serikat dan kami akan mengenakan tarif pada perusahaan yang meninggalkan Amerika untuk menciptakan pekerjaan di China dan negara lain," tutup dia.

Diketahui hubungan Trump dengan China terus memburuk akibat pandemi virus corona. Trump terus melontarkan kesalahan kepada China.

Hingga saat ini, Amerika Serikat merupakan negara yang terdampak parah pandemi virus corona. Tercatat 6,2 juta orang positif sedangkan 189 ribu pasien meninggal dunia.

Penulis: Jeffry Sarafil
Sumber: Reuters

Baca Juga