GeNose Merambah ke Tempat Wisata, Deteksi Covid-19

Jakarta, Gempita.co – GeNose alat pendeteksi Covid-19 lewat embusan napas direncanakan ditempatkan Di tempat wisata.

GeNose merupakan inovasi pendeteksi Covid-19 lewat embusan napas pertama di Indonesia yang dikembangkan oleh tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan telah mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan pada 24 Desember 2020.

Bacaan Lainnya

Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan nantinya setiap pengunjung dan karyawan di sektor pariwisata akan dites menggunakan GeNose sebelum memasuki area hotel, restoran, tempat wisata, dan-lain-lain.

Menurut dia, cara ini diharapkan meningkatkan kepercayaan masyarakat kembali berwisata setelah sektor ini terpukul akibat pandemi.

Kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia menurun sebesar 74,67 persen pada 2020 dibandingkan 2019, sedangkan jumlah wisatawan dalam negeri juga turun sebesar 29,7 persen.

“Screening (menggunakan GeNose) ini tujuannya mencegah orang yang positif ada di tempat wisata, sehingga pelan-pelan mulai timbul kepercayaan dan pariwisata bergerak lagi,” kata Bambang dalam konferensi pers virtual, Jumat.

Sejumlah asosiasi agen perjalanan, hotel, restoran, dan tempat wisata sepakat memanfaatkan GeNose.

Menurut Bambang, GeNose lebih akurat sebagai alat screening di area publik dibandingkan pengukuran suhu tubuh.

Alat ini diklaim memiliki sensitivitas untuk membaca tanda positif Covid-19 hingga 92 persen, kemudian specificity untuk membaca tanda negatif hingga 94 persen.

GeNose juga diklaim lebih murah dibandingkan screening menggunakan tes cepat antigen, serta membutuhkan waktu kurang dari 5 menit untuk mengetahui hasilnya.

Alat ini bekerja dengan cara mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena infeksi Covid-19 melalui embusan napas ke dalam kantong khusus.

Pola dari VOC tersebut kemudian diidentifikasi melalui sensor-sensor yang datanya diolah dengan bantuan artificial inteligence (kecerdasan artifisial).

Hasil dari GeNose dapat diketahui melalui aplikasi yang menggunakan sistem cloud computing sehingga hasil diagnosis didapat secara real time.

Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menilai pemanfaatan GeNose sebagai alat screening di ruang publik tidak tepat dan cenderung salah kaprah.

Kecerdasan artifisial yang terbangun dalam GeNose sejauh ini baru teruji pada sampel nasofaring dari orang-orang di rumah sakit, bukan populasi umum.

Sementara itu, alat dengan metode embusan napas serupa di Belanda ternyata diketahui mempunyai sensitif terhadap bau yang menyengat seperti rokok dan alkohol sehingga memengaruhi hasilnya.

Belanda bahkan menghentikan pengetesan dengan metode ini karena menghasilkan sejumlah kasus negatif palsu.

Menurut Dicky, situasi serupa juga bisa terjadi pada GeNose apabila digunakan di populasi umum sebelum diuji.

“Ini justru berbahaya kalau dijadikan sebagai alat screening di tengah situasi pandemi di Indonesia yang belum terkendali, apalagi di lokasi wisata dan transportasi umum,” kata dia.

Sumber: anadolu agency

Pos terkait