Ekonomi

HIMKI: Target Ekspor Mebel dan Kerajinan Nasional Tak Tercapai

Kerajinan mebel - Foto: ilustrasi/tribunews

Jakarta, Gempita.co – Target pertumbuhan ekspor mebel dan kerajinan nasional pada 2020 yang sebesar 12 hingga 16 persen tidak tercapai akibat pandemi Covid-19.

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menjelaskan, nilai ekspor furnitur pada 2020 diperkirakan hanya sebesar USD1,7 miliar, turun 2 persen dari tahun lalu.

Sedangkan ekspor kerajinan pada 2020 sebesar USD755 juta atau turun 8 persen dari tahun lalu.

Secara keseluruhan, mengutip data asosiasi, total ekspor furnitur dan kerajinan pada 2020 diperkirakan sebesar USD2,4 miliar atau turun 4 persen dari tahun lalu.

Meski begitu, Ketua Presidium HIMKI Abdul Sobur mengatakan pelaku industri tetap optimis dengan masa depan industri ini karena Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan berpeluang menjadi produsen mebel dan kerajinan terbesar di regional.

“Indonesia juga berpeluang menjadi produsen mebel dan kerajinan terbesar di dunia, terutama untuk produk-produk berbasis rotan dan kayu solid,” ujar Sobur dalam keterangan resmi, Kamis.

Dia mengatakan industri mebel dan kerajinan sangat didukung oleh ketersediaan bahan baku yang berlimpah serta SDM yang terampil dalam jumlah besar, serta adanya sentra-sentra produksi mebel dan kerajinan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sobur mengatakan permintaan produk mebel dan kerajinan untuk ekspor semakin membaik pada kuartal terakhir tahun ini sejak September akibat dari perang dagang AS dan China.

Peningkatan order dari AS terjadi akibat dari sulitnya produk mebel dan kerajinan dari China masuk ke negara tersebut akibat perang dagang.

“Meski begitu, kinerja penjualan tahun ini tidak akan lebih tinggi dari tahun lalu atau kondisi normal sebelum adanya Covid-19,” imbuh dia.

Sobur mengatakan kondisi permintaan ekspor akan kembali normal pada tahun 2021 setelah vaksin Covid-19 diberikan kepada masyarakat.

Secara nasional, pada 2024 HIMKI menargetkan pertumbuhan ekspor furnitur dan kerajinan sebesar 17 persen per tahun sehingga nilainya menjadi USD5 miliar.

Pada 2025, HIMKI menargetkan nilai ekspor furnitur ke AS naik 71,4 persen hingga 114,2 persen dengan nilai USD1,2 miliar atau USD1,5 miliar.

Tahun lalu, nilai ekspor ke AS sebesar USD700 juta atau berkontribusi sekitar 38,8 persen dari ekspor furnitur nasional.

Pada tahun depan HIMKI berharap produk furnitur lokal bisa bersaing dengan furnitur impor sejalan dengan kemudahan yang diberikan oleh omnibus law UU Cipta Kerja. HIMKI memperkirakan nilai produk furnitur impor saat ini sebesar Rp10 triliun.

“Kami harapkan agar furnitur lokal dapat menikmati pasar dalam negeri, jalan terbaik pemerintah perlu menerapkan SNI dan TKDN secara ketat dan konsisten,” kata Abdul Sobur.

Selain itu, HIMKI mengharapkan pada tahun ini hambatan kewajiban SVLK bagi industri hilir diperbaiki. “Seharusnya bersifat sukarela,” tambah Sobur.

Catatan lainnya, selama 2020 ada wacana di kalangan pemerintah dan pihak lain untuk mengekspor bahan baku rotan dan kayu gelondongan (log) sehingga para pelaku usaha furnitur dan kerajinan resah. “Kami minta kepada pemerintah untuk tidak menindaklanjuti wacana tersebut,” kata Sobur.

Sumber: anadolu agency

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top