Internasional

Masjid di Amerika Bagikan Makanan Gratis, 1 dari 6 Warga Terancam Kelaparan

Foto: VoA

Washington, Gempita.co – Tak jauh dari Washington DC, Masjid Dar al-Hijra membagikan makanan gratis kepada mereka yang membutuhkan.

Ada yang baru datang pertama kalinya, tapi banyak juga yang datang bertahun-tahun.

Makanan yang dibagikan termasuk ayam halal serta sayur mayur seperti bawang, tomat dan kentang. “Setiap Kamis, ada lebih dari 100 keluarga yang masuk dalam daftar kami,” kata Nabila Om Salam, relawan Masjid Dar al-Hijra.

Kelaparan di Amerika bukan hal baru. Tapi keadaannya semakin buruk karena pandemi virus corona menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan.

Lembaga amal Feeding America memperkirakan 1 dari 6 warga Amerika terancam kelaparan karena pandemi.

Bank pangan di seluruh Amerika kebanjiran permintaan karena semakin banyak warga menganggur.

“Orang mengira ‘oh, kamu di Amerika tidak ada yang kelaparan.’ Tapi Anda akan terkejut karena banyak yang kelaparan. Mereka tak tahu apakah harus menyimpan uang untuk makan atau membayar sewa rumah. Mereka bayar sewa terlebih dulu,” kata Janine Ali, Volunteer, relawan di Masjid Dar Al Hijrah lainnya.

Ratusan pusat ibadah di Amerika, seperti Dar Al Hijrah, menjadi bank pangan setiap minggu. Di sini, makanan dari bank pangan yang lebih besar dibagikan kepada yang membutuhkan. Feeding America, jaringan pangan terbesar, mengelola sekitar 200 bank pangan di seluruh Amerika.

Organisasi non-pemerintah ini mengumpulkan dan membagikan berton-ton makanan setiap tahun, dibantu oleh para relawan.

Naeem Baig dari Dar Al Hijrah datang ke Amerika dari Pakistan lebih dari 30 tahun lalu. Dia mengatakan kemiskinan di Amerika memang berbeda, tapi penderitaan yang dialami warga miskin sama saja.

Imam Naeem Baig dari Masjid Dar Al Hijrah mengatakan, “Definisi kemiskinan atau orang miskin di Pakistan, India atau negara lain itu kalau Anda tak punya sepatu atau bajunya robek. Tapi di AS, orang miskin datang naik mobil. Mobil bukan kemewahan di sini, tapi kebutuhan.”

Relawan dan staf mengatakan kebanyakan warga yang minta bantuan, kurang berpendidikan dan kurang cakap berbahasa Inggris, sehingga tak punya pekerjaan yang bagus. Ditambah pandemi COVID-19 yang memperbesar kesenjangan antara kaya dan miskin di negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini.

Sumber: voa

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top