Kesehatan

Oximeter Mengukur Saturasi Oksigen dalam Darah, Begini Penjelasannya!

Foto: Istimewa

Gempita.co – Pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri bisa menggunakan alat pengukur saturasi oksigen, yakni pulse oximeter.

Dikutip dari Department of Health, orang yang terinfeksi Covid-19 memiliki kadar oksigen yang rendah dalam darah, bahkan ketika mereka merasa sehat.

Pulse oximeter dapat mengukur berapa banyak oksigen dalam darah seseorang.

Alat ini memiliki ukuran kecil yang dijepit ke jari, atau bagian lain dari tubuh.

Pulse oximeter sering digunakan di rumah sakit dan klinik dan dapat dibeli untuk digunakan di rumah.

Namun, alat ini tidak disarankan untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi Covid-19.

Dikutip dari News Medical Life Sciences, saturasi oksigen adalah parameter penting untuk menentukan kandungan oksigen darah dan pengiriman oksigen.

Saturasi oksigen dapat mengukur persentase oksihemoglobin (hemoglobin yang terikat oksigen) dalam darah, dan direpresentasikan sebagai saturasi oksigen arteri (SaO 2 ) dan saturasi oksigen vena (SvO 2 ).

Setiap molekul hemoglobin mengandung empat kelompok heme yang dapat dengan mudah mengikat molekul oksigen yang ada dalam darah.

Ini berarti bahwa satu molekul hemoglobin dapat mengikat hingga empat molekul oksigen selama pengangkutan dalam darah.

Lantas, berapa kadar saturasi oksigen yang normal? Untuk orang dewasa, kisaran normal kadar saturasi oksigen adalah 95 – 100%.

Nilai yang lebih rendah dari 90% dianggap saturasi oksigen rendah, di mana orang tersebut membutuhkan suplementasi oksigen eksternal.

Pengukuran saturasi oksigen sangat penting bagi pasien dengan kondisi kesehatan yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam darah.

Kondisi tersebut antara lain penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia, kanker paru-paru, anemia, gagal jantung, serangan jantung, dan gangguan kardiopulmoner lainnya.

Metode yang paling umum untuk mengukur saturasi oksigen adalah oksimetri nadi.

Ini adalah metode non-invasif yang mudah, tanpa rasa sakit, di mana probe ditempatkan di ujung jari atau daun telinga untuk mengukur saturasi oksigen secara tidak langsung.

Metode lain untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah adalah dengan tes gas darah.

Tes gas darah adalah pendekatan lain untuk secara akurat mengukur tingkat oksigen dan karbon dioksida dalam darah.

Untuk tes, darah dapat dikumpulkan dari pergelangan tangan (tes gas darah arteri) atau daun telinga (tes gas darah kapiler).

Tes ini terutama digunakan untuk menentukan apakah paru-paru berfungsi penuh untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara efektif.

Apa yang terjadi ketika saturasi oksigen turun?

Tingkat oksigen yang lebih rendah dari normal dalam darah didefinisikan sebagai hipoksemia .

Umumnya, tingkat saturasi oksigen yang lebih rendah dari 90% dianggap sebagai hipoksemia, yang dapat diakibatkan oleh komplikasi kardiopulmoner, sleep apnea, obat-obatan tertentu, dan paparan ketinggian.

Gejala hipoksemia yang paling umum di antaranya sakit kepala, detak jantung cepat, batuk, sesak napas, mengi, kebingungan, dan kebiruan pada kulit dan selaput lendir (sianosis).

Sianosis adalah kondisi patologis yang ditandai dengan saturasi oksigen yang sangat rendah.

Cara Meningkatkan Saturasi Oksigen yang Rendah

Penurunan saturasi oksigen di bawah tingkat kritis harus ditangani dengan suplementasi oksigen.

Tergantung pada tingkat keparahan kondisinya, dokter dapat meresepkan oksigen tambahan, yang memiliki efek paling langsung pada tingkat saturasi oksigen.

Namun, untuk kondisi ringan hingga sedang, ada cara alami untuk meningkatkan tingkat saturasi oksigen darah.

Misalnya, latihan fisik setiap hari dapat meningkatkan kapasitas paru-paru untuk pertukaran gas dan melindungi dari hipoksemia.

Namun, penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum menerapkan perubahan dalam rutinitas olahraga sehari-hari.

Konsumsi makanan yang sehat dan seimbang juga dapat membantu meningkatkan saturasi oksigen darah.

Kekurangan zat besi adalah salah satu penyebab utama saturasi oksigen rendah.

Makan makanan yang kaya zat besi, seperti daging, ikan, kacang merah, lentil, dan kacang mete.

Sumber: Tribunnews

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top