Ekonomi

Peranan Startup Sangat Besar Dalam Mendukung Produktivitas Perikanan Budidaya

Foto: dok.Humas Ditjen Perikanan Budidaya

Jakarta, Gempita.co – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengapresiasi perkembangan start up sektor perikanan di Indonesia yang kian menggembirakan.

Data yang dihimpun oleh jaringan start up bidang perikanan yang tergabung dalam Digifish, menyebut setidaknya ada lebih dari 700 start up bidang perikanan tersebar di Indonesia.

Di antaranya lebih dari 30 start up tergabung dalam digifish network. Peran start up yang didominasi kaum milenial sangat sentral terutama kontribusinya dalam mendorong mata rantai sistem produksi perikanan yang lebih efisien. Demikian terungkap dalam ajang tahunan “Digifish 2020” yang diselenggarakan secara daring. Selasa. (15/12).

Digifish sendiri merupakan ajang tahunan yang menghadirkan sharing berbagai inovasi dari para start up bidang perikanan yang ada di Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam keterangan video conference di Jakarta menyatakan bahwa peran para milenial sebagai start up sangat sentral terutama dalam mendorong daya ungkit nilai tambah ekonomi bagi para pembudidaya ikan khususnya. Kontribusi nyata tersebut beber Slamet, terlihat dari perannya sebagai penyangga pasar melalui jejaring market on line (e-commerce) utamanya selama masa pandemi Covid -19.

“Pandemi Covid- 19 telah secara nyata memberikan efek negatif terhadap rantai suplai yang menyebabkan harga komoditas di tingkat pembudidaya turun, penyebabnya market yang terbatas akibat banyak yang tutup. Namun kehadiran para start up bisa menjembatani masalah pasar. Penciptaan pasar online, saya kira sangat membantu penyerapan produk dan tentu berefek pada kembali bergeliatnya kegiatan usaha budidaya”, jelas Slamet.

Ia juga menyebut, setidaknya ada 5 (lima) peran penting start up yang akan terus didorong yakni menjamin kepastian pasar, mendorong bahan baku berkualitas, memperkuat ketelusuran produk, mendorong investasi melalui skema crowdfunding, dan menjamin supply chain lebih efisien.

“KKP tentu siap untuk mendorong tumbuh kembangnya start up bidang perikanan di Indonesia. Inovasi menjadi mutlak guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, apalagi potensi Sumber Daya Perikanan, utamanya akuakultur sangat besar,” tutup Slamet.

Foto: dok.Humas Ditjen Perikanan Budidaya

Sementara itu, dalam rekaman video yang ditampilkan secara daring, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Bambang Brojonegoro, mengingatkan pentingnya melakukan transformasi pendekatan pembangunan dari Resource Economic Based ke arah Inovation Economic Based. Menurut Bambang, ini penting untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan keluar dari middle income country.

“Pemerintah akan mendorong strategi triple helix dalam mewujudkan inovasi sebagai sumber kekuatan ekonomi ke depan yakni penguatan peran Pemerintah, akademisi dan industri. Kami juga telah menginisiasi program Start Up Inovasi Indonesia dengan memberdayakan para start up seperti Aruna Marketplace, e-fishery, growpal dan lainnya. Potensi sektor kelautan dan perikanan ini luar biasa, jadi memang kita perlu fokus menggarapnya secara optimal,” tegas Bambang.

Peran Start Up Mampu Dorong Ekonomi Pembudidaya Ikan

Para start up bidang perikanan telah terbukti menjadi penyelamat para pembudidaya ikan di tengah terkendalanya akses pasar selama masa pandemi Covid-19.

Foto: dok.Humas Ditjen Perikanan Budidaya

CEO E- Fishery, Gibran mengatakan pihaknya telah berupaya untuk terjun langsung memfasilitasi kemudahan akses pasar bagi hasil panen para pembudidaya ikan melalui program “Tarik Ikan”. Program ini dengan melakukan pembelian langsung ke on farm untuk menjamin pembelian. Ia mengaku dalam kurun waktu Maret hingga Oktober setidaknya sebanyak 850 ton ikan berhasil dibeli secara langsung dari para pembudidaya.

“Program “Tarik Ikan” tujuannya untuk menjamin akses pasar langsung di masa pandemi ini. Jadi, kita coba jemput bola untuk beli fresh (hidup) dan kami olah sendiri. Kami juga telah mendapat award dari donatur untuk mensuplai ikan bagi tenaga kesehatan,” jelas Gibran.

Gibran juga membeberkan e-fishery mencatat pertumbuhan kinerja yang sangat signifikan. Lewat pengembangam e-fishery point di seluruh Indonesia, saat ini setidaknya telah menyalurkan pembiayaan bagi pembudidaya senilai Rp50 miliar, penyerapan produk sebanyak 1.000 ton; pemberdayaan pembudidaya mitra kepada 13.000 orang dan penjualan sebanyak 3.000 ton pakan ikan.

“Ada tiga program unggulan kami yakni terkait fish market, feed dan fund. Jika ketiga sistem produksi ini bisa kita integrasikan, pasti daya ungkit ekonominya luar biasa. Saat ini, kami telah punya 70 e-fishery point di seluruh Indonesia. Di sisi lain, kami bersama Aruna juga telah mendapatkan suntikan dana sekitar 200 milyar rupiah, pungkasnya.

Sumber: Humas Ditjen Perikanan Budidaya

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top