Covid Meledak Lagi, Ekonomi RI Bakal Kembali Kritis?

Jakarta, Gempita.co-Pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengumumkan, jumlah kasus baru aktif Covid-19 di Indonesia pada Rabu (9/6/2021) bertambah 7.725, sehingga secara kumulatif kasus Covid-19 sejak Maret sudah ada 1.877.050 orang.

Adapun kasus aktif hingga Rabu (9/6/2021) mencapai 101.635 orang. Kasus aktif adalah pasien yang dinyatakan positif Covid-19 dan sedang menjalani perawatan. Angka itu didapatkan dengan mengurangi total kasus positif Covid-19 dengan angka kesembuhan dan kematian.

Bacaan Lainnya

Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira berpandangan, lonjakan Covid-19 masih menjadi ancaman nyata bagi pemulihan mobilitas penduduk.

“Berkaca dari kasus India, jangan sepelekan naiknya kasus harian Covid-19, karena menghambat optimisme konsumen dan pergerakan logistik,” jelas Bhima saat berbincang dengan CNBC Indonesia, dikutip Kamis (10/6/2021).

Mengingat, kasus lonjakan Covid-19 terjadi di provinsi yang memiliki proporsi cukup besar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Misalnya saja Jakarta dan Jawa Timur.

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet jika tren kenaikan lonjakan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin aktivitas masyarakat akan kembali terbatas.

“Jika tren kenaikan lonjakan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin harus mendorong pemerintah menerapkan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) ketat kembali dan muaranya akan membatasi aktivitas perekonomian,” jelas Yusuf.

Seperti diketahui, saat PSBB diterapkan pada tahun lalu, ekonomi mengalami resesi. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2020 terkontraksi atau -2,07%.

Jika PSBB kembali diberlakukan, maka menurut Yusuf, bukan tidak mungkin ekonomi Indonesia akan kembali terkontraksi.

Daerah yang ekonominya bertumpu pada sektor swasta akan berdampak paling signifikan, apabila kasus harian Covid-19 tidak juga melandai.

Malah menurut Direktur Eksekutif Institute for Development on Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, saat ini kemungkinan pandemi Covid-19 di tanah air sudah menghadapi gelombang dua.

“Daerah yang sifatnya antar wilayah dan ke sektor pariwisata, ini akan jadi problem yang menghantui selama Covid-19 ini masih ada. Kalau satu wilayah rendah dan wilayah tetangga merah, itu ancaman besar,” jelas Tauhid.

“Pelajarin Covid, ini seperti menghadapi gelombang dua, karena kasusnya mulai meningkat tajam,” kata Tauhid melanjutkan.

Pos terkait