Ragam

Kampung Pecinan Tambak Bayan Merayakan Imlek, Melukis dan Menghias Tembok Rumah

Foto: gatra.com

Surabaya, Gempita.co – Segelintir warga etnis Tionghoa di Surabaya yang mencoba memeriahkan Imlek dengan cara yang berbeda.

Salah satunya, dengan melukis dan menghias tembok rumah. Kegiatan itu dilakukan warga Kampung Pecinan Tambak Bayan, dan 27 seniman yang terdiri dari mahasiswa dan komunitas seniman mural di Surabaya sejak empat hari lalu.

Gambar atau lukisan muralnya bermacam-macam, meski tidak semua dinding rumah warga yang disasar. Mayoritas, adalah gambar khas mahluk legenda asal Tiongkok dan yang berkaitan dengan itu.

Ada gambar kapal perang Tiongkok, sejumlah tokoh di Kampung Pecinan Tambak Bayan, mayat hidup atau vampir ala Tiongkok dengan kertas jimat di dahi. Beberapa mural juga menggambarkan liukan naga atau Liong di awan, dan berbagai lukisan mural lainnya.

“Ini gambar vampir ngguyu [tertawa]. Kenapa gambar vampir, karena ini melambangkan kebangkitan. Kebangkitan dari pandemi Covid-19,” kata Dodo, salah seorang pelukis mural dikutip Gatra.com, Minggu (7/2).

Dodo mengatakan, memang berbeda tiap karya antara pelukis mural yang satu dengan yang lain. Karena, warga dan rekannya sesama seniman mural tidak mengonsep secara khusus gambar apa yang terpajang di dinding rumah warga.

Selain melukis mural di dinding rumah warga, ia dan warga juga akan menggelar pameran sebagai output dari perayaan Imlek tahun Kerbau Logam ini. Hanya, ia belum mengetahui pasti kapan dan apa saja yang nanti dipamerkan.

Anggota Koordinator Tim Mural Tambak Bayan, Nandi Wardhana, mengatakan, kegiatan tersebut tidak semata untuk memeriahkan Imlek. Juga, sebagai wadah kegiatan positif selama pandemi, yang sudah dilakukan komunitasnya sejak 2011 lalu.

Sebab, warga Tambak Bayan tidak dapat lagi merayakan Imlek dengan pertunjukkan berupa tarian dan atraksi Barongsai. Karenanya, dengan melukis mural di dinding rumah warga, kemeriahan Imlek tetap dapat diwijudkan.

“[Kegiatan ini] sebagai wujud kami menyikapi pandemi Covid-19 ini. Jadi, kami ingin tetap ada perayaan Imlek, tapi tidak menimbulkan keramaian seperti tahun-tahun sebelumnya,” kata Nandi.

Menurutnya, kegiatan tersebut tentu tidak akan mengundang banyak kerumunan warga yang berpotensi menjadi media penularan Covid-19. Selain itu, warga pecinan khususnya, tetap dapat merasakan kemeriahan Imlek seperti tahun-tahun sebelumnya.

Soal tema besar kegiatan mural Imlek tersebut, adalah Bersatu Ditengah Badai. Artinya, mengajak masyarakat tetap guyub dan rukun selama pandemi dan persoalan kehidupan lainnya.

Sumber: gatra.com

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top