Kenapa Corona DKI Justru Makin Banyak, Ini kata Ahli Wabah

Papan nisan kuburan bertulisan "Corona Bin Covid" di Taman Jatinegara Barat, Jakarta Timur untuk mengingatkan bahaya Covid-19/net

Jakarta, Gempita.co-Kenapa kasus corona di Indonesia tetap tinggi, terutama di DKI Jakarta? Padahal, selama enam bulan ini pemerintah telah menerapkan serangkaian peraturan untuk menekan laju penyebaran virus corona, termasuk PSBB total. Ini kata ahli wabah.

Alih-alih berkurang, kasus corona di Indonesia justru meningkat saban hari sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat diberlakukan di Jakarta.

Bacaan Lainnya

Dalam sepekan terakhir, pertambahan kasus COVID-19 di ibu kota tetap di atas 1.000 orang, dan jadi yang paling tinggi di Indonesia. Pada Jumat kemarin misalnya, ada tambahan 1.403 kasus dari hasil uji usap. Dibandingkan hari yang sama pekan lalu, 1.034 kasus, angka ini jelas menjadi tamparan bagi pemerintah.

Pertambahan kasus corona DKI ditambah kasus-kasus lain khususnya di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, akhirnya membuat Indonesia berada di urutan 9 negara-negara Asia dengan kasus tertinggi. Dalam satu hari, Minggu (20/9), tercatat total ada 3.989 kasus baru, dengan jumlah kasus positif infeksi virus corona sebanyak 244.676 kasus.

Seluruh provinsi di Indonesia telah melaporkan adanya kasus positif COVID-19 di wilayahnya. Dari jumlah kasus infeksi, sebanyak 177.327 orang telah dinyatakan sembuh dari paparan virus. Sementara itu, jumlah kematian yang dilaporkan mencapai 9.553 kasus, dengan 105 kasus kematian baru harian, catat Bernama.

Kenapa kasus corona di Indonesia tetap tinggi, terutama di DKI Jakarta? Padahal, selama enam bulan ini pemerintah telah menerapkan serangkaian peraturan untuk menekan laju penyebaran virus corona, termasuk PSBB total.

Iwan Ariawan, ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) angkat bicara.

ia berujar, ada faktor penting yang menyebabkan kenapa penyebaran corona di Indonesia tak kunjung turun. Pada dasarnya, penyebaran dan penularan corona itu mengikuti pergerakan dan kerumunan orang.

“Pada saat PSBB ketat, penularan dapat dicegah dengan berkurangnya pergerakan dan kerumunan orang. Namun, setelah PSBB dilonggarkan, seharusnya protokol kesehatan dilakukan dengan cakupan tinggi, hingga 85 persen,” ujar Iwan.

Faktor lain masih kenapa kasus corona di Indonesia terus meningkat, imbuh Iwan, tes COVID-19, lacak, dan isolasi juga harus dilakukan dengan rasio lacak paling tidak 1 banding 10. Sementara yang terjadi di Indonesia selama ini, pencegahan tak dilakukan dengan baik selama PSBB, PSBB Transisi, PSBB jilid 2, dan seterusnya.

“Analisis kami menunjukkan, PSBB bermanfaat untuk mengurangi penularan COVID-19. Akan tetapi, protokol kesehatan dan tes-lacak-isolasi tidak terlihat manfaatnya karena cakupan masih rendah dan tidak dilakukan secara konsisten,” katanya.

Kondisi ini diperburuk dengan minimnya kesadaran dari warga soal betapa bahayanya penularan virus corona ini. Warga selama ini masih percaya diri, tak akan mungkin tertular corona, sehingga kerap abai terhadap protokol kesehatan. Oleh karena itu, harus ada komunikasi risiko yang baik dan tepat sasaran dari pemerintah kepada masyarakat.

“Saya tekankan sistem tes-lacak-isolasi harus diperbaiki dan dipantau rutin. Strategi komunikasi harus sesuai dengan kelompok masyarakat sasarannya. Pesan yang disampaikan oleh para aparat harus sejalan. Saat ini, sering pesannya tidak sejalan sehingga masyarakat bingung,” pungkas Iwan.

¹

Pos terkait