Observasi Laut Untuk Keselamatan dan Kesejahteraan Manusia

FOTO: Humas BRSDM

Bali, Gempita.co – Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menggelar Webinar Internasional dengan tema “ Ocean Observation and Modelling to Support Marine Resources Management ” , Rabu (14/10) ), di Balai Riset dan Observasi Laut (BROL) Bali.

Tujuannya adalah untuk berdiskusi serta mempelajari tentang bagaimana observasi laut dan pemodelan dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah pulau lebih dari 17.500 buah, laut yang sangat luas mencapai 70% luas wilayahnya, dan garis pantai kedua terpanjang di dunia, memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar.

Namun demikian, datang ancaman terhadap sumberdaya tersebut dari kegiatan Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUUF), perubahan iklim, dan proses antropisasi yang menyebabkan degradasi ekosistem laut.

IUUF merugikan Pemerintah Indonesia dan nelayan sekitar dua miliar dolar per tahun, dan menimbulkan masalah lingkungan termasuk polusi, erosi pantai, dan kerusakan hutan. Untuk itu perlu upaya dalam mengatasi masalah ini dan pendekatan untuk menjaga sumber daya jangka panjang yang berkelanjutan.

“Memang dalam ilmu pengetahuan, kita akan mulai dari masalah pemahaman. Jadi manusia yang diberikan kapasitas intelektual yang luar biasa. Sehingga dengan lingkungan intelektual yang dimiliki, maka dia akan mulai belajar fenomena alam yang ada di sekitarnya, perbatasannya, dan lain-lain. Kemudian cara memahaminya pun mengalami perkembangan, tidak hanya melalui visual dengan panca indera yang kita miliki, tapi juga dengan alat bantu. Setelah memahami fenomena tersebut, maka kita mulai memiliki bayangan, fenomena alam ini mana yang akan kita manfaatkan untuk kesejahteraan manusia dan mana fenomena alam yang berbahaya yang harus kita hindari. Kita lakukan persiapan-persiapan, sehingga manusia tidak takut bencana yang berkaitan dengan alam, ”ujar Kepala BRSDM Sjarief Widjaja.

Selanjutnya ia menjelaskan pentingnya observasi.Tahapannya, dimulai dari pagi, lalu memperdalam dan mengembangkan sebuah metodologi untuk observasi, serta membuat modeling. Menurutnya, apa yang terjadi pada fenomena alam disederhanakan, dibuat sebuah _miniature_ danprototype untuk memahami salah satu materi yang diangkat.

Kita bisa membuat permodelan di alam. Misalnya karakteristiklautan atau dinamika lautan. Kalau bicara model hidrodinamik,misalkan untuk melihat tentang gelombang saja, maka kita akan membuat pemodelan bagaimana bagaimana caranya bicara gelombang dan dampak apa yang tinggalnya terhadap kehidupan manusia di sekitar pesisir pantai. Demikian juga dengan hal-hal lain, misalnya arus dan sebagainya, ”tuturnya.

“Kemudian, kita akan meningkat yang lebih kompleks lagi, yang terjadi antara arus, gelombang, angin, dan lain sebagainya. Itu akan membuat interaksi yang selanjutnya akan membuat model dinamis yang lebih kompleks. Karena lebih kompleks, maka dibutuhkan alat , pemodelan dari simulasi , pemodelan komputer , dan sebagainya. Itu adalah alatnya. Setelah kita tahu semuanya, baru kita membuat pengelolaan sumber daya laut . Kata kunci-nya adalah itu. Manajemen sumber daya laut itu selalu berdasarkan hasil observasi. Baru kita tahu bagaimana organisasi lingkungan laut, dan sebagainya, ”lanjut Sjarief.

Karena itu, ia menyambut baik forum-forum ilmiah yang diselenggarakan pada kesempatan ini dan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan BROL bersama para penelitinya. Ia memberikan arahan, setelah pemodelan yang ditetapkan agar menciptakannya menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Hal yang terkait dengan tsunami, perlu dilakukan upaya prefentif dan pengelolaan laut untuk menyelamatkan masyarakat pesisir.

Karena itu, ia memberikan arahan agar hasil penelitian KKP tidak terlalu lama dalam bentuk tingkatpengetahuan, tetapi harus segera ditransformasikan menjadi sebuah rencana tindakan, untuk melakukan tindakan tindakan prefentif terhadap bencana atau penggunaannya di masyarakat.

“Nanti Pusat Riset Kelautan KKP akan mengeksplor dan mengelaborasi lebih lanjut. Intinya KKP berharap semua hasil diskusi kita nanti akan berujung kepada sebuah rekomendasi berupa _plan action_, yang bisa diikuti oleh masyarakat, stakeholder, dan kita akan menjadi sosok lembaga penelitian , yang jadi panutan bagi masyarakat. Intinya kesana, jadi tidak berhenti sampai tahu bagaimana , tetapi sampai kepada pemanfaatan masyarakat, ”tutup Sjarief.

Sebagai informasi, webinar ini dihadiri secara online oleh peserta dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, LSM / LSM, dan sebagainya. Bertindak sebagai narasumber adalah Dr. Zexun Wei dari First Institute of Oceanography (FIO) dan Kementerian Sumberdaya Alam Republik Rakyat Tiongkok; Serta narasumber dari peneliti KKP, yaitu Dr. Asmi Marintan Napitu dan Dr. Dwiyoga Nugroho.

Kesimpulan hasil diskusi, antara lain: 1) OMIS (Observation and Modeling Information System ) atau SIDIK ( System Prediksi Kelautan) merupakan sistem observasi laut yang penting untuk menjawab permasalahan yang terjadi di laut Indonesia, seperti IUU fishing,perubahan iklim, dampak antropogenik; 2) Model samudra dapat mendukung para pemangku kepentingan dalam pengelolaan pesisir, misalnya sampah laut dan naik permukaan laut; 3) pengembangan OMIS dilakukan dengan mencari potensi kolaborasi dalam observasi dan pemodelan laut, penginderaan jauh samudra dan dinamika pesisir; 4) permasalahan laut Indonesia sangat kompleks dan berimplikasi pada perikanan dan cuaca ekstrim, sehingga perlu antisipasi dampaknya di masa mendatang; 5) permodelan dalam mendukung observasi yang memiliki keterbatasan, sehingga perlu strategi terbaik dengan menggunakan model dan observasi dengan perbandingan konstan; serta 6) perlunya dikembangkan observasi laut yang didasarkan pada nasional dan internasional.

Pos terkait