Virus Corona Tidak Akan Berakhir Dalam Beberapa Bulan Mendatang, WHO; Bukan Seperti  Lari Sprint, Tapi Marathon

Ilustrasi

Jakarta, Gempita.co-Pandemi virus corona tampaknya tidak akan berakhir dalam beberapa bulan mendatang.

Demikian diungkapkan perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Rusia, Melita Vujnovic, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Rusia, TASS, Senin, 30 November 2020.

Bacaan Lainnya

Menanggapi pertanyaan, Vujnovec mengatakan bahwa pandemi akan berakhir “begitu vaksin memungkinkan untuk mencapai tingkat kekebalan yang diperlukan.”

“Kita mulai bertindak berdasarkan pemahaman bahwa virus itu ada dalam populasi dan tidak akan pergi kemana-mana, ia akan tetap ada, seperti virus lainnya,” ujar dia.

“Kita harus belajar hidup dengan virus dan menghentikannya mengendalikan hidup kita,” tambah Vujnovic.

Pejabat WHOO itu mengatakan bahwa ini bukan masalah bulan tapi semua pihak harus bergerak maju.

“Pada musim semi, kami melihat bahwa itu bisa dilakukan dan kita semua harus bekerjasama,” katanya.

Menurut Vujnovic, jalan untuk mengatasi pandemi virus corona masih panjang.

“Ini bukan lari sprint 100 meter, melainkan maraton,” jelasnya.

Sejak pertama kali diidentifikasi di Wuhan, China, pada Desember 2019, virus corona baru yang menyebabkan penyakit COVID-19 ini telah menginfeksi lebih dari 63,2 juta orang di seluruh dunia, termasuk telah merenggut nyawa lebih dari 1,4 juta orang sejauh ini, menurut data yang dihimpun Worldometers. Sementara itu, sebanyak lebih dari 43,6 juta pasien virus corona dinyatakan pulih.

Amerika Serikat masih menjadi negara dengan kasus infeksi dan kematian akibat virus corona baru yang tertinggi nomor satu di dunia sejauh ini, dengan telah melaporkan total lebih dari 13,7 juta kasus yang dikonfirmasi, termasuk lebih dari 273.000 kematian akibat COVID-19.

India menempati tempat kedua setelah Amerika, dengan total mencatatkan lebih dari 9,4 juta orang yang telah terjangkit virus tersebut, dan lebih dari 137.000 orang meninggal dunia usai terjangkit COVID-19.

Brasil melengkapi tiga besar, dengan telah mengumpulkan total lebih dari 6,3 juta kasus infeksi virus corona. Sementara itu, angka kematian COVID-19 di negara tersebut telah mencapai lebih dari 172.000. Ini merupakan angka kematian COVID-19 tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Pos terkait