Ekonom Ini Sebut Ngeri Jika Indonesia Lockdown

Ilustrasi Lockdown/net

Jakarta, Gempita.co-Sejumlah negara sudah memberlakukan lockdown untuk mengatasi penyebaran virus corona (covid-19). Namun tidak demikian dengan Indonesia, yang hingga saat ini tidak melakukannya. Pemerintah lebih memilih kebijakan social distancing atau pembatasan sosial.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkap jika lockdown diberlakukan di Tanah Air akan berdampak ‘ngeri’ jika diterapkan. Menurutnya, jika lockdown artinya tidak ada kegiatan ekonomi alias ekonomi lumpuh.

Bacaan Lainnya
Gempita Bali Transport

“Kalau diri sisi penanganan memang sisi positifnya tentunya penanganan Covid-nya lebih cepat kalau kita lockdown, tapi di sisi lain dampak ekonominya lebih besar dibandingkan social distancing seperti saat ini, karena kalau lockdown kegiatan ekonomi lumpuh sama sekali, nggak ada aktivitas,” ujar kepada Josua dalam keterangannya, belum lama ini.

Ia mengatakan, jika lockdown yang buka hanya layanan kesehatan serta beberapa instansi pemerintah saja, ekonomi juga terganggu. Pasalnya, saat ini 60-70 pekerja di Indonesia merupakan pekerja informal. Mereka mayoritas memperoleh pendapatan secara harian.

“Saat lockdown akan ada pertanyaan mereka mendapat pendapatan dari mana, kalau tidak bekerja nggak dapat makanan. Perputaran pendapatan dia setiap hari, kalau lockdown akan terkena dampak signifikan sekali,” ungkapnya Josua.

Kemudian, lanjut dia, juga akan mengganggu distribusi barang dan jasa. Keduanya terganggu dan akan menimbulkan panic buying. “Pendapatan yang terganggu ditambah dengan pasokan barang yang terhambat berpotensi menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Harga-harga kalau terjadi panic buying inflasi juga. Makanya saya pikir dampak ekonominya cukup besar,” papar Josua.

“Kemarin Bu Sri Mulyani (Menteri Keuangan) sempat ngomong kalau kondisi seperti sekarang ini kita masih bisa tumbuh 4%. Kalau misalkan covid-19 berkepanjangan dan lockdown pertumbuhan kita bisa di bawah 4%,” sambungnya.

Sementara, Deputy Director Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, insentif apapun yang diberikan pemerintah tidak akan efektif jika corona tidak bisa diatasi.

“Insentif apapun dalam kondisi masyarakat cemas, pelaku ekonomi cemas maka sebenarnya tidak akan efektif. Kenapa, karena sungguh pun macam-macam pelonggaran kredit, restukturisasi tapi data fakta pasien bertambah, yang meninggal bertambah itu nggak bisa dibantah juga,” katanya.

Pos terkait

Iklan Layanan Masyarakat Kemenkumham Bali