Mahalnya Harga Barang di Papua, KemenkopUKM Tawarkan Bentuk Koperasi Distribusi

Jayapura, Gempita.co – Terkait mengatasi masalah kemiskinan ekstrim dan mahalnya harga barang di Provinsi Papua, Kementerian Koperasi dan UKM menawarkan untuk membuat Koperasi Distribusi kebutuhan sembako dan Holding (Induk Koperasi) di Papua, serta primer-primer di Kabupaten dan kota.

“Dengan langkah ini, kemahalan dan kemiskinan secara perlahan akan teratasi, termasuk masalah instabilitas,” tandas Asisten Deputi Pengembangan SDM Perkoperasian dan Jabatan Fungsional Kementerian Koperasi dan UKM Nasrun Siagian, pada acara pembukaan Pelatihan Peningkatan Kualitas SDM Perkoperasian, di Kota Jayapura, Papua, Rabu (24/11).

Bacaan Lainnya

Di depan para peserta pelatihan yang diselenggarakan pada 24-26 November 2021, Nasrun mengakui, untuk mewujudkan koperasi tersebut tidaklah mudah. Salah satunya, harus dipersiapkan SDM dari kalangan milenial yang kuat dan dukungan seluruh pihak.

“Di dalamnya mencakup membangun infrastruktur koperasi di masing-masing distrik, permodalan, rantai pasok dari pabrikan, transportasi, dan keamanan dan sosialisasi massif kepada masyarakat pentingnya membentuk dan menjadi anggota koperasi,” jelas Nasrun.

Nasrun optimis, jika konsep ini terwujud, masalah kemiskinan ekstrim dan kemahalan harga di disrik-distrik di Papua dapat diatasi.

Nasrun pun menekankan pentingnya kehadiran koperasi yang mewadahi para Mama-Mama pedagang Pasar Papua. “Koperasi sangat cocok dengan budaya kekerabatan dan solidaritas orang Papua, yang sangat guyub,” kata Nasrun.

Untuk itu, Nasrun mengajak Mama-Mama pasar Papua untuk mewujudkan solidaritas yang tinggi tersebut dalam kekuatan ekonomi dalam wadah koperasi. “Pasalnya, koperasi merupakan milik bersama yakni dari, oleh dan untuk anggota, koperasi adalah entitas atau lembaga ekonomi yang berwatak sosial dan berazas kekeluargaan,” imbuh Nasrun.

Keuntungan menjadi anggota koperasi, lanjut Nasrun, selain ada Sisa Hasil Usaha (SHU) di akhir tahun, juga akan menerima manfaat dari koperasi. Misalkan, tambahan permodalan, pinjaman biaya anak sekolah (pakaian seragam, biaya kuliah), biaya berobat. “Tentunya, dengan margin bunga yang rendah karena merupakan keperluan mendasar,” ulas Nasrun.

Oleh karena itu, menurut Nasrun, komunitas Mama-Mama pasar Papua, harus bergandengan tangan, dan memberikan pelayanan dengan senyum, sapa, dan ramah, serta harga yang wajar. “Lebih baik margin keuntungan sedikit, tetapi barang laris, dan kesan positif dari masyarakat akan timbul bahwa belanja di pasar Mama-Mama Papua itu menyenangkan,” tukas Nasrun.

Kepada para pendamping UKM, Nasrun juga menyampaikan pentingnya inovasi dan kreativitas pasar Mama-Mama Papua, untuk menciptakan produk makanan olahan yang bervariasi dan market oriented.

“Kami dengan Dinas Koperasi, UMKM dan Tenaga Kerja Provinsi Papua, terus memonitor dan akan memberikan perhatian khusus kepada pasar Mama-Mama Papua,” kata Nasrun.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Provinsi Papua Oemah Laduani Ladami mengakui bahwa permasalahan di Papua utamanya adalah SDM, baik SDM Aparatur maupun SDM UMKM, serta kemahalan harga.

Laduani pun sepakat untuk membentuk semacam koperasi distribusi untuk mengantisipasi mahalnya harga produk di Papua.

“Tetapi, untuk mewujudkan itu, butuh kolaborasi dan sinergi, serta perjuangan ekstra, karena melibatkan banyak stakeholder. Kita harus memulai dengan terlebih dahulu menyiapkan SDM dan Kelembagaannya,” kata Laduani.

Sementara itu, Irman Meilandi sebagai expert dan pendamping yang cukup lama dan malang melintang di Tanah Papua, sangat memahami kultur masyarakat Papua, dan berkeyakinan dengan pendampingan yang berkesinambungan dengan melibatkan generasi milenial dan mengajarinya berbisnis bersama-sama melalui koperasi, permasalahan kemiskinan yang mengakibatkan instabilitas secara perlahan akan bisa diatasi.

Pos terkait