Menteri Trenggono Takjub dengan Penghasilan Pembudidaya di Telong Elong

Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri

Lombok, Gempita.co – Penghasilan pembudidaya lobster di Telong Elong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), membuat takjub Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono. Dalam sekali panen, seorang pembudidaya mengaku bisa meraup untung sebesar Rp250 juta.

Dalam kunjungan kerjanya, Menteri Trenggono melanjutkan perjalanan ke Telong Elong, Lombok Timur setelah bertemu dengan pembudidaya lobster, penangkap benur dan nelayan di Pelabuhan Perikanan Teluk Awang, Lombok Tengah. Sama seperti di Teluk Awang, Menteri Trenggono juga meninjau keramba jaring apung masyarakat di tengah laut, dengan menggunakan kapal nelayan.

Bacaan Lainnya

“Ini pembudidaya modalnya Rp150 juta, hasilnya Rp400 juta dalam waktu sekitar delapan bulan. Jadi satu tahun bisa berpenghasilan sekitar Rp500 juta,” ujar Menteri Trenggono.

Adalah Haji Rojak yang berhasil mengumpulkan keuntungan Rp250 juta melalui budidaya lobster. Lobster yang dibudidayakan jenisnya mutiara dan pasir. Dalam setahun, keramba jaring apung berisi delapan lubang budidaya milik Haji Rojak, mampu memproduksi sekitar 1 ton lobster, dengan pemeliharan mulai dari ukuran jangkrik.

Besarnya keuntungan yang didapat pembudidaya membuat Menteri Trenggono semakin optimis sektor ini dapat berkembang pesat. Apalagi Indonesia memiliki benih bening lobster yang melimpah sebagai modal utama dilakukannya budidaya, sumber daya manusia yang sudah terbukti mampu menjalankan budidaya, serta perairan yang cocok untuk budidaya.

Hal lain yang menarik dari sebagian besar pembudidaya di Telong Elong adalah keterlibatan istri dalam menjalankan aktivitas budidaya. Istri para pembudidaya sampai rela menginap di keramba saat suami mereka mencari ikan untuk pakan lobster. Menteri Trenggono pun dibuat takjub dengan kegigihan pembudidaya Telong Elong tersebut.

“Semangat terus pokoknya pembudidaya, kami di Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mendukung penuh. Baik regulasinya, infrastruktur, pendampingan, dan hal lain yang dibutuhkan untuk peningkatan produktivitas,” urai Menteri Trenggono.

Menteri Trenggono memplot Lombok menjadi pusat lobster tropika kedepannya, dengan membangun lobster estate. Nantinya akan ada sistem pemantau harga, sehingga harga lobster lebih transparan dan stabil.

Melalui program ini, proses produksi dan pemasaran juga akan terintegrasi sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan masyarakat ikut meningkat. Hal ini semakin mudah direalisasikan, sebab sudah mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Saya berharap dalam waktu yang tidak lama, enam bulan bisa kita mulai pembangunan. Sehingga nanti tahun depan saya sudah melihat, atau nanti akhir tahun misalnya, saya datang lagi kesini sudah banyak turis. Nanti ada kafe yang belakangnya ada budidaya budidaya. Jadi nanti pembudidaya tuh berseragam, baju bagus. Dengan demikian maka ekonomi kita bisa bangkit,” pungkasnya.

Lombok Timur termasuk kawasan di NTB yang masyarakatnya paling banyak membudidayakan lobster. Lokasinya ada di Teluk Seriweh, Teluk Jekung, dan Teluk Ekas.

Sepanjang tahun 2020, produksi lobster di Lombok Timur mencapai 82.568 kg. Sedangkan jumlah pembudidaya mencapai 1.809 yang terbagi dalam 147 kelompok pembudidaya.

Sumber: Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri

Pos terkait