Soal Pelanggaran Statuta, PSSI Bisa Kena Sanksi FIFA

Jakarta, Gempita.co– Mantan Anggota Komite Etik FIFA, Dali Tahir sedih melihat berbagai pelanggaran yang dilakukan PSSI di bawah kepemimpinan Mochamad Iriawan yang akrab dipanggil Iwan Bule. Dari mulai pembentukan Satuan Tugas Tim Nasional (Satgas Timnas) Indonesia hingga pengangkatan Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi yang kabarnya akan dipertahankan hingga usai pelaksanaan Piala Dunia U 20 2021.

“Sedih saya melihat PSSI. Pengangkatan Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi itu saja sudah melanggar statuta FIFA/PSSI. Belum lagi adanya pembentukan Satgas Timnas Indonesia yang tidak dikenal dalam sepakbola,” kata Dali Taher yang dihubungi Gonews.co Group melalui WhatsApp, Sabtu (31/7/2020).
Dalam soal statuta FIFA/PSSI, kata Dali Tahir, Mochamad Iriawan selaku pemegang penanggung jawab tertinggi sepakbola Indonesia tidak bisa main-main. Hal ini bisa berdampak jatuhnya sanksi dari FIFA yang menyeragamkan statuta dengan tujuan menertibkan dan mengembangkan sepakbola dengan baik di dunia.
“Pelanggaran statuta FIFA/PSSI itu jangan dianggap sepele. Itu bisa berbahaya bagi PSSI pimpinan Iwan Bule. Perlu dicatat bahwa FIFA itu memiliki sikap ” zero tolerance ” atau toleransi nol dalam menghadapi para pelanggar statuta. Jadi, FIFA bisa memberikan sanksi terhadap PSSI,” katanya.
Ketika ditanyakan apa sanksinya?, Dali Tahir yang juga Ketua Tim Perumus Statuta PSSI menjawab, “Bisa sampai di banned atau dilarang ikut dalam kompetisi resmi FIFA dan juga berpengaruh terhadap penyelenggaan tuan rumah Piala Dunia U 20 2021.”
Dijelaskan Dali, Presiden FIFA, Sepp Blatter bersama Exco FIFA menetapkan agar semua federasi sepakbola anggota FIFA mengadopsi statuta FIFA pada tahun 2000. Khusus bagi PSSI, katanya, statuta itu sebagai pengganti Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang menjadi pedoman PSSI saat itu.
“PSSI adalah salah satu Federasi di Asia yg mengadopsi statuta FIFA di tahap awal dan kebetulan saya ditunjuk PSSI menjadi Ketua Tim Persiapan Statuta PSSI. Kami berunding di Zurich, Kuala Lumpur dan Jakarta hampir selama 2 tahun dimana akhirnya Statuta PSSI di terima FIFA,” ujarnya.
Maksud dan tujuan diberlakukannya statuta kepada semua Federasi anggota FIFA, kata Dali, agar terjadi keseragaman dalam menjalankan organisasi. “Harus selalu kita pahami bahwa penguasa tunggal sepakbola dunia adalah FIFA. Apalagi, banyak manfaat yang dinikmati anggota FIFA , dari kursus ke pelatihan: wasit, inspektur pertandingan, kepelatihan organisasi dan juga bantuan finansial yang rutin,” ungkapnya.
Dia juga mengingatkan Indonesia pernah dihukum FIFA selama 1 tahun karena melanggar statuta FIFA . Oleh karena itu, sangatlah penting bagi PSSI untuk patuh pada statuta FIFA/PSSI. “Saat ini terlalu banyak hal yang EXCO PSSI yang gagal faham tentang statuta FIFA/PSSI. Salah satunya adalah menempatkan anggota Exco untuk menjabat sebagai Plt Sekjen PSSI. Ini conflict of interest dan tidak dibenarkan karena fungsi Exco hanyalah pemutus kebijakan,” tandasnya.
Satu-satunya anggota Exco AFC dua periode dan Komite Etik FIFA dari Indonesia yang belum tergantikan sampai saat ini menjelaskan secara detail fungsi para Direktur dan Komite yang membuat kebijakan yang dikoordinasikan dengan SekJen PSSI yang statusnya adalah pegawai PSSI. Sedangkan Exco diwajibkan untuk mengadakan rapat 3-4 kali dalam setahun guna memutuskan draft keputusan yang sudah disiapkan para direktur dan Komite. Dalam rapat Exco, SekJen dilarang bicara kecuali diminta.
“Saya juga tidak habis pikir Ratu Tisha yang menjabat Sekjen PSSI bisa duduk sebagai wakil PSSI di AFF dan AFC. Ini kan sudah pelangaran,” ungkapnya.

Pos terkait